penyebab miss v basah

Merasa Vagina selalu basah? Kira-kira apa penyebabnya? Apakah berbahaya? Simak berbagai penyebab miss V selalu basa di sini.

Vagina merupakan organ tubuh wanita yang paling intim dan sensitif. Adanya rangsangan seksual akan membuat vagina terlubrikasi. Ketika terlubrikasi, cairan berupa lendir dapat keluar dan vagina bakal terasa basah.

Perlu Anda ketahui bahwa cairan yang keluar dari vagina dihasilkan oleh kelenjar bartholin dan serviks (mulut rahim). Kelenjar bartholin ini membantu menghasilkan cairan pelumas yang keluar saat wanita terangsang.

Baca juga: 10 Fakta dan Mitos Seputar Usus Buntu

Sedangkan serviks (mulut rahim) menghasilkan lendir yang berubah-ubah mengikuti siklus haid.

Namun jika vagina terasa selalu basah, ada beberapa kondisi kesehatan yang mendasari. Berikut ini penyebab vagina selalu basah yang perlu Anda ketahui

1. Infeksi Vaginosis Bakterialis

Penyebab miss V basah bisa karena Infeksi vaginosis bakterialis. Infeksi ini disebabkan oleh perubahan kimiawi atau akibat bakteri anaerob yang berkembang biak dalam jumlah berlebihan.

Gejala yang dirasakan ketika terinfeksi vaginosis bakterialis ialah merasakan vagina gatal dan muncul keputihan yang berwarna kuning hingga keabuan.

Infeksi ini juga menyebabkan keputihan abnormal yang sering dialami oleh wanita usia subur. Tak hanya itu saja, wanita yang aktif secara seksual pun dapat terinfeksi vaginosis bakterialis.

Penanganan ini dapat dilakukan dengan mengurangi pertumbuhan bakteri berlebih. Oleh karena itu berkonsultasi dengan dokter agar mendapatkan obat antibiotik untuk mengatasi infeksi bakteri di vagina.

2. Infeksi Trikomoniasis

Penyebab miss v basah selanjutnya adalah karena adanya infeksi Trikomoniasis.

Trikomoniasis atau trichomonas vaginalis merupakan penyakit menular seksual yang disebabkan oleh parasit. Parasit ini lebih sering menyerang wanita dibandingkan dengan pria.

Pria juga bisa terinfeksi parasit ini manakala berhubungan seksual dengan pasangan yang terinfeksi penyakit trikomoniasis.

Pada kasus trikomoniasis, tubuh akan menghasilkan cairan vagina dalam jumlah berlebihan. Akibatnya, vagina selalu terasa basah, keluar cairan kental, berwarna kekuningan, berbusa, berbau tak sedap dan bahkan menimbulkan rasa gatal dan panas.

Baca juga: Mengenal Coolsculpting, Metode Pangkas Lemak Tanpa Diet

Umumnya parasit ini dapat diatasi dengan pemberian obat antibiotik.

3. Infeksi Klamidia

Infeksi klamidia ini disebabkan oleh bakter Chlamydia trachomatis dan biasanya ditularkan melalui aktivitas seksual. Wanita berisiko tertular saat berhubungan intim dengan laki-laki yang terinfeksi klamidia.

Gejala dari infeksi klamidia ini dapat muncul pada minggu pertama setelah kontak pertalam kali (hubungan seksual) terjadi. Keluhan yang sering dialami berupa keputihan berlebih sehingga vagina basah dan berbau.

Klamidia juga dapat menyebabkan wanita mengalami nyeri di perut yang kadang disertai demam, nyeri saat buang air kecil, dan nyeri ketika berhubungan seks.

Jika tidak diobati, infeksi klamidia dapat menyebabkan wanita mengalami radang panggul. Radang panggul bisa menyebabkan kerusakan tuba fallopi (saluran yang menghubungkan indung telur dan rahim) dan menyebabkan ketidaksuburan. Infeksi bakteri ini umumnya diobati dengan pemberian antibiotik

4. Radang Panggul

Radang panggul atau pelvic inflammatory disease (PID) merupakan infeksi yang terjadi di dalam rongga panggul.

Infeksi ini dapat berdampak ke bagian organ reproduktif wanita, seperti uterus, serviks, ovarium, atau tuba fallopi. Radang panggul dapat menyebabkan perut mengalami nyeri kronis (berlangsung lama).

Terkadang, infeksi panggul bisa menyebabkan hidrosalping, yaitu pembengkakan saluran telur. Penyebab radang panggul bisa jadi akibat komplikasi dari infeksi klamidia, gonore, atau tindakan pemasangan KB spiral yang tidak higienis.

Radang panggul kerap tidak menimbulkan gejala. Namun, bila didapati adanya gejala, keluhan yang muncul bisa berupa nyeri di area panggul, perdarahan di antara siklus haid, atau vagina selalu basah yang disertai bau tak sedap. Untuk mengobati radang panggul dibutuhkan terapi antibiotik.

5. Terapi Hormonal

Terapi hormonal dapat menyebabkan vagina wanita selalu basah. Kadar hormon estrogen yang tinggi dapat memicu kelenjar bartholin untuk menghasilkan lebih banyak cairan dan mengakibatkan vagina terasa basah.

Keluhan vagina basah karena menjalani terapi hormonal adalah hal normal. Akan tetapi, jika sangat mengganggu atau membuat Anda tidak nyaman, coba diskusikan kembali terapi ini dengan dokter.

6. Sedang Ovulasi

Ovulasi merupakan masa subur wanita dimana ketika sel telur dikeluarkan dari indung telur dan siap untuk dibuahi.

Baca juga: Mitos Seputar Kanker Payudara

Pada saat ovulasi, serviks akan memproduksi lebih banyak lendir untuk membantu pergerakan sel sperma menuju sel telur. Dampaknya, vagina akan merasa selalu basa ketika masa subur.

Kondisi ini wajar dan normal, serta akan menghilang dengan sendiri saat masa subur sudah lewat. Namun vagina basah karena masa subur akan berulang setiap bulannya.

Vagina basa merupakan kondisi normal. Setiap harinya, wanita bisa menghasilkan 1 hingga 4ml cairan vagina yang membuatnya terasa lembap dan basah. Namun, jika yang Anda dapati adalah vagina selalu basah, kemungkinan Anda mengalami salah satu kondisi yang telah dijelaskan di atas.

Untuk itu, segera periksakan diri ke dokter untuk mendapatkan penjelasan dan penanganan yang tepat.

Leave a comment